Borobudur

Borobudur

Janturan Nusantara

Swuh rep data pitana.

Nenggih negari pundi ta kang ka éka adi dasa purwa.
Eka sawiji adi linuwih, dasa sapuluh, purwa wiwitan.
Senadyan kathah titahing jawata ingkang kasangga
ing Pertiwi, kaungkulan ing Angkasa, kapit ing Samodra,
kathah ingkang samya anggana raras, nanging datan
kadi ing negari Nusantara.

Ngupaya satus datan antuk kekalih, sewu tan jangkep
sedasa, ora jeneng mokal lamun mangka bebukaning
carita. Dhasar Negara panjang punjung pasir wukir,
gemah ripah loh jinawi, karta tata raharja.

Panjang dawa pocapané, punjung dhuwur kawibawané,
pasir samodra, wukir gunung. Pranyata nagari Nusantara
ngungkuraken pegunungan, ngeringaken bengawan
nengenaken pasabinan miwah ngayunaken bebandaran agung.

Gemah kathah para nangkuda kang lumaku dedagangan
anglur selur datan ana pedhoté, labet tan ana sangsayaning margi.

Ripah kathah para janma manca negari kang samya katrem
abebalé wisma ing salebeting kitha, jejel apipit bebasan aben
cukit tepung taritis, papan wiyar katingal rupak.

Loh subur kang sarwa tinandur, jinawi murah kang sarwa tinuku.
Karta para kawula ing padusunan mungkul pangolahing
tetanèn ingon-ingon kebo-sapi pitik-iwèn datan cinancangan
rahina aglar ing pangonan wanci ratri bali marang kandhange
dhéwé-dhéwé.

Raharja tegesé tebih ing parang muka, karana para mantri
bupati wicaksana limpating kawruh tan kendhat dènya
misungsung kabahagyan marang ratu gustènipun
sumarambah para kawula dasih. Mila ora jeneng mokal lamun
negari Nusantara kena dibebasakaké jero tancepé, malembar
jenengé, kasup kasusra prajané.

Ora ngemungaké ing kanan-kéring kéwala senajan ing
praja maha praja kathah kang samya tumungkul datan
linawan karana bandayuda, amung kayungyun marang
pepoyaning kautaman bebasan kang cerak samya manglung
kang tebih samya mentiyung asok bulu bekti glondhong
pengareng-areng pèni-pèni raja pèni guru bakal guru dadi…

Rabu, 06 Februari 2008

Opini tentang AGAMA

Baiklah buat menghibur diri sendiri, aku mau nulis tentang agama. Tapi bukan agama yang formalized dan legalized lho... tapi agama dalamartian agama yang aku fahami sebagai orangJawa yang terlalu bangga menjadi Indonesia.

Tapi ada baiknya pula aku kemukakan bahwadi Jepang situ pernah dilakukan sensus pendudukdan diteliti tentang spiritualitasnya, yaitu ingindianalisis berapa jumlah penduduk yang beragama-nya dibanding dengan jumlah penduduk total.Al hasil, ketika penduduk Jepang ini masih 120 juta(berarti sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu) ternyatadidapati 200 juta penduduk beragama. Jadi kalaudiproporsikan saja sudah 'geseh' masak ada riligionizedpeople suatu negeri kok 200/120 x 100% ? (hitunglahsendiri). Belum lagi tentunya penduduk yang beragamaitu adalah yang sudah BALIGH. Lha lantas gimana tuh?(kuncinya: SALAH bila ada orang berkata bahwaorang/bangsa Jepang itu umumnya tidak BERAGAMA!)

Nah, sekarang agama itu apa? Orang sering mengartikan agama secara keliru denganbahasa Sanskerta, dengan a = tidak dan gama = kacau.Jadi agama = tidak kacau.... weleh, dari manaaaa tuh?Kemudian ada yang menyatakan bahwa agama itudidefinisikan dengan meminjam bahasa lain lagi yaitu'Arab dengan 'Diin' (= jalan?). Yaaah terserahlah, yangjelas dengan pengertian-pengerti an itu agama menjadisempit. Karena menjadi sempit, orang (baik mengatas-namakan seseorang nabi atau wali atau ketua sekte,atau sekedar panglima sebuah laskar) dengan seenak-nya menamai agama menjadi berbagai nama. Membagiagama menjadi 2, katanya ada agama langit ada agamabudaya... wuik..... sombong amat!

Orang menganggap agama langit datangnya dari TimurTengah, karena para nabi yang dianggap sebagai utusanTUHAN kebanyakan (atau semua? gimana dengan Adam,Nuh, dan beberapa nabi yang konon hanya selisihbeberapa generasi saja dari manusia yang dianggap sebagai manusia pertama itu) dari Timur Tengah.Agama-2 selain itu dianggap sebagai agama kebudayaan.Lho.... kok berani ya?

Baik sekarang aku mau menyatakan sesuatu tentangagama dari bahasa Jawa Kuno dan Kawi. Awalan 'a' dalamkedua jenis bahasa yang sering berimpit makna ini artinya 'berbuat' atau 'melaksanakan' . Misal saja dari pepatah jawa modern: "RUKUN AGAWE SANTOSA".Atau bahasa-bahasa daerah yang masih menyisakankedua bahasa itu, misalnya Madura dengan Agelek =tertawa (gelek = tawa), alakok = berjalan (lakok = jalan).

Nah sekarang apa artinya gama?Dalam 2 bahasa yang sering digunakan sebagai bahasasastra Jawa kuna itu 'gama' bermakna 'ajaran'. Darisitu misalnya kemudian muncul sastra kuna berjudulASMARAGAMA = ajaran-ajaran tentang asmara (;=))]Nah jadi dapatlah kita maknai sekarang gama dalamagama itu apa. Agama no gama to iu no ha nan desuka?Tak lain adalah ajaran menempuh hidup. Di Hindu dan Buddhaada istilah DHARMA, di Islam ada Syari'at, di Kristen adaEtika (kalau ndak salah), di Jawa ada LAKU. Itulahmenurutku yang disebut agama no gama itu!

Kebetulan kemarin studio ANTEVE mengakhiri sinetronkolosal dari India, Mahabharata, dengan keteranganbagus sekali di penghujung cerita, yaitu ajaran MahaGuru Viyasa. Ajaran yang disampaikan oleh saudaratiri Viyasa, DEVA BHARATA (Bhisma) menjelang diaberpamitan untuk kembali ke sorga-loka kepada cucu-2pemenang Bharatayuda, para Pandawa disaksikan olehVasu Deva (Krishna). Dinyatakan bahwa Dharma adalahkeseimbangan antara HAK dan KEWAJIBAN hidupseorang manusia, bahkan semua makhluk. Baik yangditengarai sebagai makhluk berjiwa dan berpikiransampai yang dianggap sebagai benda mati, sepertilaut, gunung, langit, matahari, batu, molekul, atom,foton, elektron dan sebagainya. Karena apa?

Karena belum ada yang bisa menyimpulkan dimanabatas kecilnya materi dan batas mahabesarnyajagat raya. Juga belum ada yang menyatakan bahwajagat raya ini benda hidup atau mati. Yang bisa dilaksanakan ya baru dharma masing-masing. Dharmayang sangat tergantung kepada status, budayadan akal budi.Nah tak usah panjang-panjang lagi.. karena memang takut kepanjangan. .. Di negeriku tercinta ini, khususnyadi lingkup budaya Jawa, ada suatu faham spiritualismeazasi, bermata tiga yaitu:1. MANEMBAH kepada yang berhak disembah2. MANUHI (bersahabat) dengan semua isi alam3. MEMAYU HAYUNING BAWANA (berusaha keras untuk keselamatan dunia)

Manembah, artinya berbuat 'tunduk' bukan karenasekedar takut siksa, takut dosa dan ingin pahala,melainkan memang SESEMBAHAN itu ya harusdisembah. Sampai-sampai karena manusia (Jawa)tidak mampu menggambarkan DIA, disebut sajamenjadi KANG TAN KINAYANGAPA (Yang tidak adaperumpamaannya).

Manuhi segala isi alam. Bersahabat dengan alam,mencari keseimbangan. Maka orang jawa kenaldengan istilah Sedulur Papat Lima Pancer. Saudaramereka berada di 4 mata angin dan juga di pusattempat dianya berada. Simak saja dan coba jawabpertanyaanku ini: "Siapakah Ki Sanak sebenarnya?Untuk apa dan mengapa serta akan kemanasehingga Ki Sanak ada?" Memayu hayuning bawana adalah kesimpulanimplementatif Manembah dan Manuhi alam itu.Maka dari itu bahasa timur (jawa, sunda, jepang)selalu kenal dengan bahasa halus. Bahasa yangdipergunakan terhadap orang yang baru dikenalnyaatau yang lebih tua. Memang sepele, tapi itulahwujud dari implementasi MANEMBAH dan Manuhi alam. (Bayangkan saja seandainya2 orang jawa bertengkar tetapi dengan bahasakromo... mustahil bukan? atau orang jepang berteng-kar dengan Keigo.... lucu bukan?).

Nah saudara-saudara adakah ajaran spiritualismeyang mencakup 3 mata tersebut selain budayaTimur kepulauan? Adakah sebutan sesama denganKi Sanak, atau - San (untuk Jepang) pada lingkupbudaya atau ajaran agama yang lain? Tata cara untukbergaul seperti itu, terus terang aku belum menemukanpada ajaran-ajaran agama, termasuk agama yangaku anut, yaitu ISLAM. Yang ada yaaaa pengkastaan. Ada kasta ulama, kyai haji,santri, abangan dan lain-lain. Dimana suatu kastamendominasi 'hak' spiritual umat awam. Bahkan kastaitu sekarang kembali dikait-kaitkan dengan darah ke-turunan. Sebutan Habieb misalnya. Termasuk juga sebutan Imam, Pendeta, Pastor, Biarawan dan sebagainya.

Ah, lama-lama aku sadar, bahwa ajaran-ajaran agamalegal dan formal sekarang ini semuanya adalahproduk IMPOR bagi budaya nusantara, apalagi budayajawa. Dahulu nenek-moyangku berhasil membangunbudaya yang kuat dan disegani. Dalam wujud Srivijaya,sayang melumpuh karena campur tangan pemerintahan(Dharma Raja) terhadap spiritualitas rakyat terlalu kuat.Sriwijaya konon melemah, karena kuatnya agamaBudha.Kemudian terbit Majapahit. Ini pun mengulangi sejarahmasa lampau. Dharma Raja sampai membuat lembagaSapta Prabu, termasuk di dalamnya pimpinan-2 agama.Dan lemah pula dengan masuknya Islam, bukan?Nah sekarang Islam kelihatannya menguat di Negeriini. Namun sayang menguatnya bukan menyangkutisi (atau dalam kejiwaan) para penganutnya, melain-kan sebatas baju-baju kekuasaan dan 'merasa'dominan dari komponen-komponenny a. Apa iya,negeri ini yang sekarang skalanya adalah NKRI,bukan hanya Sriwijaya (dominan jawa-sumatera) ma-upun Majapahit (dominan jawa), melainkan meliputi17.000 pulau Nusantara, ini akan melemah gara-gara agama lagi?

Tidakkah kita bisa melacak apa sumber penyebabPERANG SALIB? Tak lain dan tak bukan hanyaberebut TANAH SUCI, makam Ibrahim, bukan? Kalau begitu kan sama saja berebut (bangsa-bangsaitu) untuk menjadi semacam JURU KUNCI MAKAM?

Dan dulu perang salib itu berkesudahan denganpenghinaan luar biasa atas umat beragama di TimTengserta Eropa. Disapu bersih oleh suatu bangsa yang'liar', tidak beragama dan sak kepenake dhewe....yaitu Jengish Khan dengan badai dari Timurnya,berupa bangsa Mongol.

Dan kini, rame-rame bernuansa agama kembali di-sediakan bahan ledekan oleh Yang Maha Kuasa,yaitu dengan makhluk yang disebut dengan TEKNO-LOGI. Teknologi BOM.Sekian, terimakasih dan maaf bila kepanjangan.KDP - sedang memaknai hadirnya Bom sebagai alat beragama modern.