Borobudur

Borobudur

Janturan Nusantara

Swuh rep data pitana.

Nenggih negari pundi ta kang ka éka adi dasa purwa.
Eka sawiji adi linuwih, dasa sapuluh, purwa wiwitan.
Senadyan kathah titahing jawata ingkang kasangga
ing Pertiwi, kaungkulan ing Angkasa, kapit ing Samodra,
kathah ingkang samya anggana raras, nanging datan
kadi ing negari Nusantara.

Ngupaya satus datan antuk kekalih, sewu tan jangkep
sedasa, ora jeneng mokal lamun mangka bebukaning
carita. Dhasar Negara panjang punjung pasir wukir,
gemah ripah loh jinawi, karta tata raharja.

Panjang dawa pocapané, punjung dhuwur kawibawané,
pasir samodra, wukir gunung. Pranyata nagari Nusantara
ngungkuraken pegunungan, ngeringaken bengawan
nengenaken pasabinan miwah ngayunaken bebandaran agung.

Gemah kathah para nangkuda kang lumaku dedagangan
anglur selur datan ana pedhoté, labet tan ana sangsayaning margi.

Ripah kathah para janma manca negari kang samya katrem
abebalé wisma ing salebeting kitha, jejel apipit bebasan aben
cukit tepung taritis, papan wiyar katingal rupak.

Loh subur kang sarwa tinandur, jinawi murah kang sarwa tinuku.
Karta para kawula ing padusunan mungkul pangolahing
tetanèn ingon-ingon kebo-sapi pitik-iwèn datan cinancangan
rahina aglar ing pangonan wanci ratri bali marang kandhange
dhéwé-dhéwé.

Raharja tegesé tebih ing parang muka, karana para mantri
bupati wicaksana limpating kawruh tan kendhat dènya
misungsung kabahagyan marang ratu gustènipun
sumarambah para kawula dasih. Mila ora jeneng mokal lamun
negari Nusantara kena dibebasakaké jero tancepé, malembar
jenengé, kasup kasusra prajané.

Ora ngemungaké ing kanan-kéring kéwala senajan ing
praja maha praja kathah kang samya tumungkul datan
linawan karana bandayuda, amung kayungyun marang
pepoyaning kautaman bebasan kang cerak samya manglung
kang tebih samya mentiyung asok bulu bekti glondhong
pengareng-areng pèni-pèni raja pèni guru bakal guru dadi…

Minggu, 24 Agustus 2014

Tipuan Ajisaka (Radar Panca Dahana)

(Hanuman: tokoh idola atau penghianat?)

Catatan KDP: Saya sangat tercenung dan terkejut membaca bagian artikel Mas Radar Panca Dahana tentang “Tipuan Ajisaka” ini. Keterkejutan saya terletak pada figur tokoh epos Ramayana: HANUMAN. Ya, dalam pewayangan Ramayana versi Jawa, Hanuman (Anoman) sudah menjadi idola. Bahkan dimitologikan sebagai “Anak derivatif Hyang Bayu, dengan ciri berkain POLENG dan menggenggam kuku PANCANAKA, ketajaman yang LIMA. Tapi apakah benar dugaan Mas Radar, bahwa sebagai raja monyet yang maha sakti, Hanuman ternyata hanyalah sebagai tokoh penghianat bangsa Monyet yang membantu raja Arya Ramawijaya menaklukkan Rahwana (raja Sri Alengka)? Apakah benar rombongan monyet Gua Kiskendha itu sebenarnya satu rumpun bangsa dengan bangsa raksasa Alengka, sebagai lambang bangsa Dravida-Indonesia yang akan ditaklukkan oleh bangsa Arya? Silakan direnungkan….

Yang jelas perahu atau kapal bercadik yang tergambar di relief dinding Borobudur menyiratkan bahwa itu adalah kapal bangsa Indonesia terutama di pesisir selatan Jawa dan juga ciri khas kapal bangsa laut seperti suku Bajo. Karena ciri bercadik itulah yang memungkinkan kapal-kapal Nusantara mampu mengarungi samudera Pasifik (menuju kepulauan Fiji dan Selandia baru) dan samudera Hindia menuju Madagaskar dan bahkan mencapai pantai Afika Barat dengan membawa perbekalan yang hingga sekarang dapat dilacak buktinya berupa: AYAM, PISANG RAJA dan PISANG TANDUK, dan juga tanaman TALAS-TALASAN.

TIPUAN AJISAKA

perahu-bercadik-borobudurMaka, dari fakta yang diringkas sebelumnya (Indonesia Maritim #1 – #3), bisa kita mendapat pemahaman bagaimana kebudayaan Indonesia sebenarnya telah dibangun dengan cara yang sangat mengagumkan, dari kehidupan dan pengetahuannya tentang kelautan. Bukan daratan. Dan itu tidak hanya membuktikan betapa sebenarnya jati diri dan identitas muasal kita adalah pelaut sejati, bangsa laut yang besar dan disegani di masa purba (pra-sejarah), yang berinteraksi secara intens dengan peradaban-peradaban besar dan purba di Mesopotamia, Babylonia, Indus hingga Cina, tetapi juga serentak itu ia membantah keterangan sejarah yang kini taken for granted bagi kita, bahkan menjadi mitos.

Keterangan di atas membalik uraian sejarah formal bahwa Indonesia dibentuk oleh pendatang-pendatang dari sungai Mekong pada 3000 SM, atau kemudian diadabkan oleh bangsa India, disusul Arab, Cina, dan Eropa. Kenyataannya kita adalah bangsa yang sudah berdagang jauh sebelum Yesus atau Nabi Muhammad lahir. Tidak mengherankan, bila banyak bukti baru mengatakan Islam datang ke Indonesia bukan lagi pada awal abad 11 lewat para mubalig Cina dan Gujarat, tetapi sejak masa Nabi masih hidup. Bisa jadi begitu pula dengan agama Kristen, Buddha bahkan Hindu. [Atau mungkin justru substansi agama-agama itu diajarkan dan disebarkan oleh pelaut-pelaut Nusantara, jauh sebelum ditulisnya kitab-kitab dari bangsa Ibrani? Lewat guru-guru spiritual Nusantara yang kemudian nama-namanya diabadikan dan disucikan sebagai nama-nama dewa dan malaikat? - KDP]

Figur Timur Tengah atau Afrika?Kita tahu kini, sejak bangsa Arya mulai menempati lereng Himalaya dan sungai Gangga pada 1500 SM, mereka membutuhkan waktu 1,000 tahun lagi (500 SM) untuk sampai wilayah Selatan India, di mana ternyata sudah merupakan perkampungan orang Indonesia yang semarak di sana. Di masa itulah dipercaya, kitab-kitab utama Buddha lahir, kitab Vedha menyebar, dan peradaban Yunani melahirkan filosof-filosof yang tajam pikirannya.

Maka adalah hal yang sangat masuk akal, bahwa orang Indonesia (Austronesia) yang bercampur dengan Dravida sebenarnya adalah lawan dari penjajah Arya yang tengah mencoba melebarkan koloninya hingga Srilangka. Di sinilah, saya kira, mitologi Arya, Ramayana mendapatkan konteks historisnya. Rama sebagai raja Arya memerangi Rahwana, raja maha sakti Dravida. Dengan kelicinannya Rama menggunakan ‘rakyat setempat yang takluk’ sebagai “pasukan para” di garda depan. Rakyat yang berkulit gelap yang dipersonafikasi melalui monyet-monyet dan raja-raja monyet yang ditaklukkannya.

Babak Ramayana yang mengisahkan bagaimana Rama membangun jembatan monyet untuk menyerbu Rahwana, raja Sri Alengka (Srilangka), mengindikasikan betapa miskinnya pengetahuan Rama tentang laut, sehingga ia meminta bantuan bangsa Dravida-Indonesia yang takluk (yang digambarkan sebagai monyet) itu. Wajarlah jika raja monyet paling sakti yang menghamba pada Rama, Hanuman, di-“anugerahi” posisi khas: diputihkan kulit(dan bulu)nya, sebagaimana kulit bangsa Arya. Padahal sesungguhnya Hanuman adalah pengkhianat bagi bangsanya sendiri.

Penaklukan besar yang teriwayatkan dalam sastra indah ini, memberi kita beberapa proposisi interogatif yang menantang: tidakkah kolonialis Arya di Dravida yang datang ke pulau Sumatera dan Jawa, memanfaatkan teknologi pelayaran nusantara, untuk menaklukkan penguasa-penguasa pribumi di kepulauan itu? Tidakkah mitologi Ajisaka bagi masyarakat Jawa hanyalah sebuah legitimasi historis yang mitis, untuk penaklukan yang berpola sama dengan Rama? Ajisaka menaklukkan Dewata Cengkar (penguasa pribumi yang digambarkan sebagai rasaksa, sebagaimana rahwana), melalui senjata sederhana, kain pengikat kepala, sehingga membuat Dewata Cengkar tersingkir perlahan dan akhirnya tercebur ke laut, menjadi dhemit di selat Banyuwangi?

Betapa mitologi ini sudah menipu kita berabad-abad? Seakan orang Jawa ontologinya berujung pada pangeran dari India Selatan yang membawa aksara hanacaraka, yang tak lain kembangan dari bahasa suci Arya, Sansekerta? Semacam politik bahasa yang mengerangkeng pola dan daya tutur penuh suasana dari bahasa Jawa? Betapa keliru karenanya, bila orang Jawa, khususnya para raja dan sultannya jika mengidentifikasi diri pada mitologi dan politik bahasa ini. Atau memang kerajaan-kerajaan di Jawa tidak lain adalah pewaris pelanjut dari tradisi kerajaan Arya yang berorientasi kontinental alias daratan?

Dapatkan 7 botol @ 6 ml Melia Propolis hanya dengan Rp 635,000. Anda akan langsung menjadi member MLM PT Melia Sehat Sejahtera dengan peluang penghasilan hingga Rp 850,000 sehari…!!! Unduh formulir pemesanannya diSINI, lalu kirimkan e-mail order ANDA kedenggleng@yahoo.com, segera !

Jati Diri Indonesia I: Bangsa Bahari

Bukan maksud saya mengunggulkan "Jawa", namun ini hanya berdasarkan fakta. Bahwa pulau Jawa merupakan tempat yang banyak candinya. Bahkan kabarnya masih ada beberapa candi atau peninggalan megalitikum yang belum terungkap, karena masih terkubur, seperti situs Gunung Padang (Sukabumi - Cianjur) dan situs Sadahurip (Garut).
Fakta yang saya maksud adalah figur binatang laut Penyu yang menjaga candi utama di Candi Cetho (Ceta), Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini dibangun di atas bukit (dekat puncak) yang aksesnya cukup sulit. Tikungan tajam dan menanjak banyak dilalui ketika kita menujunya dari Karanganyar atau Surakarta.
Yang istimewa adalah di pelataran candi utama itu dijaga oleh figur penyu. Penyu ini ternyata dianggap binatang suci untuk ajaran dari Timur (Cina, Jepang dan Korea). Lalu mengapa ada di Ceta yang di puncak gunung? Candi Ceta dianggap dibangun oleh penguasa Majapahit akhir. Namun menurut pengamatan saya, ketika berkunjung kesana, ada perbedaan batu antara yang terdapat di candi induk dengan batu untuk 'gerbang bentar'-nya. Batu candi induk sudah kusam, memerah dan menunjukkan umurnya yang sudah sangat tua, sedang gapura bentar masih hitam dan halus. Apakah ini berarti pemerintah majapahit sekedar menambah atau memugar gapura bentar-nya?
Sementara ini saya berpendapat bahwa Candi Cetha dibangun jauh sebelum pemerintahan Majapahit ada. Bahkan jauh sebelum candi-candi (yang dianggap) bercorak Buddha dan Hindu dibangun di wilayah JOLODULANGMAS (Jogja Solo Kedu Magelang Banyumas). Di dekat puncak candi terdapat Lingga dan Yoni, yang melambangkan awal-mula kehidupan. Lingga Yoni ini belakangan dianggap sebagai wujud dewa-dewa kuno dari Hindu. Tetapi tidak setegas yang dipatungkan di Cetha.
Yang patut diperhatikan lagi adalah puncak candi yang berupa bangunan kubus, serupa dengan bangun KAKBAH. Konon kabarnya ini melambangkan devine berwatak perempuan.

 
Bangun Ka'bah di puncak Candi Cetha
Namun bukan masalah itu yang ingin saya kemukakan dalam posting awal "Jati Diri Indonesia" ini, melainkan mari kita kembali ke Penyu yang ada di Puncak Gunung. Telah menjadi bahasan umum tentang kesjarahan Indonesia yang menurut sejarah formal, mendapat 'peradaban' selalu dari luar. Pertama dianggap bahwa orang Indonesia ini berasal dari Yunan atau ada juga yang menganggap dari Taiwan yang datang ke Selatan skitar 3000 SM. Benarkah demikian? Kalau memang benar, mengapa kosa kata Nusantara ini sangat jauh jika dibandingkan dengan kosa kata Taiwan atau Yunan? Mengapa kita tidak tahu benar dengan bahasa Thailand atau Cambodia?
Maka menurut hemat saya, harus dibalik. Bukan bangsa Indonesia yang berasal dari UTARA, tetapi bangsa Indonesialah yang menyebar ke UTARA, sambil mengajarkan berbagai hal tentang peradaban, seperti beternak ayam, bertanam pisang dan talas, dan selanjutnya teknik budidaya persawahan.
Kenapa ayam, talas dan pisang yang menjadi perhatian? Ketiga organisme itu bisa diajak berlayar berbulan-bulan dalam keadaan hidup, jika kapal yang membawanya cukup besar. Teknologi perkapalan dan pengetahuan astronomi dan navigasi, pastilah lebih dikuasai oleh orang kepulauan dibandingkan dengan orang daratan. Dari sini kita dapat beranggapan bahwa peradaban dunia (oriental) bukan menyebar ke Selatan, tetapi diperkaya oleh orang-orang Selatan.
Orang-orang Selatan itulah orang Nusantara yang sudah berlayar mengarungi Samudera dengan memanfaatkan pergantian musim, karena mereka berlayar benar-benar dengan kapal layar, yang salah satu modelnya terpahat di relief Candi Borobudur.
 
 
Nuhun
 
Anda ingin sehat? silakan klik www.kdpbiz.com

Rabu, 06 Februari 2008

Opini tentang AGAMA

Baiklah buat menghibur diri sendiri, aku mau nulis tentang agama. Tapi bukan agama yang formalized dan legalized lho... tapi agama dalamartian agama yang aku fahami sebagai orangJawa yang terlalu bangga menjadi Indonesia.

Tapi ada baiknya pula aku kemukakan bahwadi Jepang situ pernah dilakukan sensus pendudukdan diteliti tentang spiritualitasnya, yaitu ingindianalisis berapa jumlah penduduk yang beragama-nya dibanding dengan jumlah penduduk total.Al hasil, ketika penduduk Jepang ini masih 120 juta(berarti sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu) ternyatadidapati 200 juta penduduk beragama. Jadi kalaudiproporsikan saja sudah 'geseh' masak ada riligionizedpeople suatu negeri kok 200/120 x 100% ? (hitunglahsendiri). Belum lagi tentunya penduduk yang beragamaitu adalah yang sudah BALIGH. Lha lantas gimana tuh?(kuncinya: SALAH bila ada orang berkata bahwaorang/bangsa Jepang itu umumnya tidak BERAGAMA!)

Nah, sekarang agama itu apa? Orang sering mengartikan agama secara keliru denganbahasa Sanskerta, dengan a = tidak dan gama = kacau.Jadi agama = tidak kacau.... weleh, dari manaaaa tuh?Kemudian ada yang menyatakan bahwa agama itudidefinisikan dengan meminjam bahasa lain lagi yaitu'Arab dengan 'Diin' (= jalan?). Yaaah terserahlah, yangjelas dengan pengertian-pengerti an itu agama menjadisempit. Karena menjadi sempit, orang (baik mengatas-namakan seseorang nabi atau wali atau ketua sekte,atau sekedar panglima sebuah laskar) dengan seenak-nya menamai agama menjadi berbagai nama. Membagiagama menjadi 2, katanya ada agama langit ada agamabudaya... wuik..... sombong amat!

Orang menganggap agama langit datangnya dari TimurTengah, karena para nabi yang dianggap sebagai utusanTUHAN kebanyakan (atau semua? gimana dengan Adam,Nuh, dan beberapa nabi yang konon hanya selisihbeberapa generasi saja dari manusia yang dianggap sebagai manusia pertama itu) dari Timur Tengah.Agama-2 selain itu dianggap sebagai agama kebudayaan.Lho.... kok berani ya?

Baik sekarang aku mau menyatakan sesuatu tentangagama dari bahasa Jawa Kuno dan Kawi. Awalan 'a' dalamkedua jenis bahasa yang sering berimpit makna ini artinya 'berbuat' atau 'melaksanakan' . Misal saja dari pepatah jawa modern: "RUKUN AGAWE SANTOSA".Atau bahasa-bahasa daerah yang masih menyisakankedua bahasa itu, misalnya Madura dengan Agelek =tertawa (gelek = tawa), alakok = berjalan (lakok = jalan).

Nah sekarang apa artinya gama?Dalam 2 bahasa yang sering digunakan sebagai bahasasastra Jawa kuna itu 'gama' bermakna 'ajaran'. Darisitu misalnya kemudian muncul sastra kuna berjudulASMARAGAMA = ajaran-ajaran tentang asmara (;=))]Nah jadi dapatlah kita maknai sekarang gama dalamagama itu apa. Agama no gama to iu no ha nan desuka?Tak lain adalah ajaran menempuh hidup. Di Hindu dan Buddhaada istilah DHARMA, di Islam ada Syari'at, di Kristen adaEtika (kalau ndak salah), di Jawa ada LAKU. Itulahmenurutku yang disebut agama no gama itu!

Kebetulan kemarin studio ANTEVE mengakhiri sinetronkolosal dari India, Mahabharata, dengan keteranganbagus sekali di penghujung cerita, yaitu ajaran MahaGuru Viyasa. Ajaran yang disampaikan oleh saudaratiri Viyasa, DEVA BHARATA (Bhisma) menjelang diaberpamitan untuk kembali ke sorga-loka kepada cucu-2pemenang Bharatayuda, para Pandawa disaksikan olehVasu Deva (Krishna). Dinyatakan bahwa Dharma adalahkeseimbangan antara HAK dan KEWAJIBAN hidupseorang manusia, bahkan semua makhluk. Baik yangditengarai sebagai makhluk berjiwa dan berpikiransampai yang dianggap sebagai benda mati, sepertilaut, gunung, langit, matahari, batu, molekul, atom,foton, elektron dan sebagainya. Karena apa?

Karena belum ada yang bisa menyimpulkan dimanabatas kecilnya materi dan batas mahabesarnyajagat raya. Juga belum ada yang menyatakan bahwajagat raya ini benda hidup atau mati. Yang bisa dilaksanakan ya baru dharma masing-masing. Dharmayang sangat tergantung kepada status, budayadan akal budi.Nah tak usah panjang-panjang lagi.. karena memang takut kepanjangan. .. Di negeriku tercinta ini, khususnyadi lingkup budaya Jawa, ada suatu faham spiritualismeazasi, bermata tiga yaitu:1. MANEMBAH kepada yang berhak disembah2. MANUHI (bersahabat) dengan semua isi alam3. MEMAYU HAYUNING BAWANA (berusaha keras untuk keselamatan dunia)

Manembah, artinya berbuat 'tunduk' bukan karenasekedar takut siksa, takut dosa dan ingin pahala,melainkan memang SESEMBAHAN itu ya harusdisembah. Sampai-sampai karena manusia (Jawa)tidak mampu menggambarkan DIA, disebut sajamenjadi KANG TAN KINAYANGAPA (Yang tidak adaperumpamaannya).

Manuhi segala isi alam. Bersahabat dengan alam,mencari keseimbangan. Maka orang jawa kenaldengan istilah Sedulur Papat Lima Pancer. Saudaramereka berada di 4 mata angin dan juga di pusattempat dianya berada. Simak saja dan coba jawabpertanyaanku ini: "Siapakah Ki Sanak sebenarnya?Untuk apa dan mengapa serta akan kemanasehingga Ki Sanak ada?" Memayu hayuning bawana adalah kesimpulanimplementatif Manembah dan Manuhi alam itu.Maka dari itu bahasa timur (jawa, sunda, jepang)selalu kenal dengan bahasa halus. Bahasa yangdipergunakan terhadap orang yang baru dikenalnyaatau yang lebih tua. Memang sepele, tapi itulahwujud dari implementasi MANEMBAH dan Manuhi alam. (Bayangkan saja seandainya2 orang jawa bertengkar tetapi dengan bahasakromo... mustahil bukan? atau orang jepang berteng-kar dengan Keigo.... lucu bukan?).

Nah saudara-saudara adakah ajaran spiritualismeyang mencakup 3 mata tersebut selain budayaTimur kepulauan? Adakah sebutan sesama denganKi Sanak, atau - San (untuk Jepang) pada lingkupbudaya atau ajaran agama yang lain? Tata cara untukbergaul seperti itu, terus terang aku belum menemukanpada ajaran-ajaran agama, termasuk agama yangaku anut, yaitu ISLAM. Yang ada yaaaa pengkastaan. Ada kasta ulama, kyai haji,santri, abangan dan lain-lain. Dimana suatu kastamendominasi 'hak' spiritual umat awam. Bahkan kastaitu sekarang kembali dikait-kaitkan dengan darah ke-turunan. Sebutan Habieb misalnya. Termasuk juga sebutan Imam, Pendeta, Pastor, Biarawan dan sebagainya.

Ah, lama-lama aku sadar, bahwa ajaran-ajaran agamalegal dan formal sekarang ini semuanya adalahproduk IMPOR bagi budaya nusantara, apalagi budayajawa. Dahulu nenek-moyangku berhasil membangunbudaya yang kuat dan disegani. Dalam wujud Srivijaya,sayang melumpuh karena campur tangan pemerintahan(Dharma Raja) terhadap spiritualitas rakyat terlalu kuat.Sriwijaya konon melemah, karena kuatnya agamaBudha.Kemudian terbit Majapahit. Ini pun mengulangi sejarahmasa lampau. Dharma Raja sampai membuat lembagaSapta Prabu, termasuk di dalamnya pimpinan-2 agama.Dan lemah pula dengan masuknya Islam, bukan?Nah sekarang Islam kelihatannya menguat di Negeriini. Namun sayang menguatnya bukan menyangkutisi (atau dalam kejiwaan) para penganutnya, melain-kan sebatas baju-baju kekuasaan dan 'merasa'dominan dari komponen-komponenny a. Apa iya,negeri ini yang sekarang skalanya adalah NKRI,bukan hanya Sriwijaya (dominan jawa-sumatera) ma-upun Majapahit (dominan jawa), melainkan meliputi17.000 pulau Nusantara, ini akan melemah gara-gara agama lagi?

Tidakkah kita bisa melacak apa sumber penyebabPERANG SALIB? Tak lain dan tak bukan hanyaberebut TANAH SUCI, makam Ibrahim, bukan? Kalau begitu kan sama saja berebut (bangsa-bangsaitu) untuk menjadi semacam JURU KUNCI MAKAM?

Dan dulu perang salib itu berkesudahan denganpenghinaan luar biasa atas umat beragama di TimTengserta Eropa. Disapu bersih oleh suatu bangsa yang'liar', tidak beragama dan sak kepenake dhewe....yaitu Jengish Khan dengan badai dari Timurnya,berupa bangsa Mongol.

Dan kini, rame-rame bernuansa agama kembali di-sediakan bahan ledekan oleh Yang Maha Kuasa,yaitu dengan makhluk yang disebut dengan TEKNO-LOGI. Teknologi BOM.Sekian, terimakasih dan maaf bila kepanjangan.KDP - sedang memaknai hadirnya Bom sebagai alat beragama modern.

Kamis, 06 September 2007

Sang Marbudeng Rat


Sang Hyang Marbudèng Rat

[Dalam sadar tak sadar, Wrekudara yang dibelit naga Kyai Nabatmawa di tengah samudera, berusaha memindah gigitan naga di paha ke lehernya. Maksud hati, agar segera Wrekudara mengalami “mati”. Namun, karena kuatnya gigitan dan kuatnya tenaga membuka mulut naga, akhirnya robek mulut Kyai Nabatmawa. Sang naga lenyap dari pandangan, lautan menjadi memerah oleh darahnya. Wrekudara terombang-ambing pingsan. Hingga terdampar di pulau kecil yang sangat indah menawan. Penuh pohon buah-buahan yang terwujud karena cahaya…Wrekudara sangat kagum ketika siuman. Melihat suasana indah terang benderang, tetapi masih kalah cerah dibanding cahaya yang mengiringi “bocah bajang” (manusia kerdil tetapi proporsional, yang wujudnya menyerupai diri Sang Wrekudara sendiri) yang tegas tapi ramah… teduh dan penuh keagungan]

“Hmm… aku heran setelah hampir mati dibelit naga, naga hilang dan aku terdampar di pulau kecil. Aku merasa telah mati, atau mimpi… tetapi nyatanya aku masih hidup menginjak bumi… Pulau kecil yang serba indah terwujud karena cahaya terang benderang, namun masih kalah benderang dibanding cahaya pengiring “bocah bajang”. Heh, “bocah bajang” siapakah engkau yang sendirian main di sini, siapa yang mengantarkanmu kesini. Serta mengapa kamu tak takut dengan hewan-hewan buas lautan...?”

“Wrekudara… Wrekudara… Engkau jangan mudah memutuskan diri untuk pergi sebelum tahu benar tempat mana yang akan kau jadikan ‘jujugan’. Engkau jangan menggampangkan diri makan sesuatu, jika belum tahu benar rasa dan daya guna makanan itu. Engkau jangan pula asal berpakaian, jika belum tahu benar cara dan budaya berpakaian sesuai dengan keadabanmu. Ibaratnya, jaman dahulu ada orang kampung dari lereng gunung ke kota langsung mendatangi “kemasan” (toko emas) ingin membeli emas. Hanya diberi sesobek kertas kuning yang ‘diakukan’ sebagai emas… Si orang kampung pulang membawa kertas kuning yang dianggapnya emas logam mulia. Maka biasakanlah engkau merenung, gunakan pengertian-pengertian alam sekitarmu serta tetapkanlah hatimu dalam bersembah… Ketahuilah Wrekudara, aku ini dewa kebahagiaan, sapaanku Batara Dewa Ruci ya Sang Marbudèng Rat…”

[Bersegera Wrekudara melakukan sembah… dan baru kali itulah Wrekudara bersembah kepada sesuatu… selain dirinya sendiri….]

“Duh, Pukulun… terimalah sembah hamba titah pujangkara Wrekudara…Pukulun Marbudèng Rat…”

“Ya, Wrekudara… Sembahmu aku terima. Puja-pujiku demi kebahagiaanmu terimalah, Wrekudara… Mari, enakkanlah dirimu duduk mendengarkan apa-apa wedaranku… Wrekudara, apa sebabnya engkau rela meninggalkan kemuliaan hidup di kerajaan, memilih mencebur laut hingga terdampar di kahiyanganku ini.. Sebab di sini bukan tempat kemuliaan, di sini bukan papan kekayaan, di sini sepi dari kenikmatan. Yang ada hanya banyak keadaan yang sesungguhnya bukan ‘piranti’ kehidupan manusia. Apakah bukan kecelik engkau sampai di sini, Wrekudara?”

“Pukulun, begini beratnya usaha memenuhi permintaan Guru sebagai syarat bagi hamba menerima wedaran ilmu ‘Sampurnaning Dumadi’. Maka sungguh kebetulan hamba bertemu Paduka, Pukulun. Mohon kiranya Paduka memberitahu di mana adanya ‘Tirta Pawitra Mahening Suci’ untuk hamba persembahkan kepada Guru Dorna, Pukulun….”

“’Dara, memang engkaulah yang harus menerima wedaran Ku tentang segala hal terkait dengan apa yang engkau cari.
Pertama, tentang keinginanmu menguasai ilmu ‘Sampurnaning Dumadi’ itu apa benar? Sampurnaning Dumadi itu menjadi ciptaan yang sempurna. Sempurna itu tidak memerlukan segala hal yang tergelar di jagad. Jadi meskipun ada manusia mumpuni bisa segala hal, menguasai segala ilmu, jika ditelusuri mendalam, manusia itu pasti ada yang mengecewakan. Pasti ada cacatnya. Yang sempurna itu tak lain ya yang menciptakan kesempurnaan jagad raya ini. Dialah yang berwenang disebut SEMPURNA….
Kedua, tentang syarat dari gurumu ‘Tirta Pawitra Mahening Suci’, di sini bukan tempatnya. Tetapi pengertian ‘sanepa’ yang diberikan gurumu itulah yang harus engkau ketahui. Tirta itu air. Uraiannya adalah kehidupan. Dimana ada air di situ ada kehidupan. Bukan air yang dipentingkan tetapi daya guna air untuk kehidupan yang dimaksudkan. Bukan hanya untuk kehidupan manusia, seluruh ciptaan hidup pasti perlu air. Pawitra itu bening. Bening itu jelas tidak menutupi. Jujur tanpa kemunafikan. Tulus tanpa pamrih… melakukan tanpa melawan. Melayani tanpa memanjakan… itulah jalan alam. Mahening, dari kata maha dan ening. Itu merupakan keadaan ketenteraman. Tenteram lahir dan batin. Tenteram dalam rasa dan cipta, tenteram dalam daya dan karsa. Suci itu bebas dari dosa. Kesemuanya mewujudkan hidup langgeng, tenteram dan bebas dari kesalahan… itulah jalan kebijaksanaan… Kesemuanya itu adalah ‘kawruh kasampurnaning urip’.
Namun, kesemua yang kujelaskan tadi sejak permulaan jagad hingga sekarang, belum pernah disandang oleh ciptaan. Hidup langgeng, tenteram, bebas kesalahan itu hingga kini hanya tinggal menjadi gagasan dan cita-cita. Ciptaan, utamanya manusia, hanya bisa mendekatinya atau menujunya untuk kembali kepada Sang Pencipta Segala Jagad. Nah, untuk lebih jelasnya, engkau harus menyaksikan jagad langgeng… melongok jagad pati….”

“Pukulun, sekalian jika begitu. Di mana hamba dapat menyaksikan jagad pati itu?”

“Wrekudara, jagad itu tidak bisa engkau saksikan dengan mata, melainkan dengan penglihatan. Tidak dapat engkau dengar dengan telinga, melainkan dengan pendengaran. Tak dapat engkau gambarkan dengan pikiran dan akal, tetapi dengan sanubarimu… Untuk itu, saksikanlah jagad pati dalam diriku, masuklah ke dalam tubuhku… lewat telingaku yang kiri…!”

“Aduh Pukulun… Apa mungkin itu terjadi. Hamba bersifat wadag tinggi besar, sedang Paduka bersifat ‘bajang’. Jangankan tubuh hamba seutuhnya, kelingking hamba pun tak akan cukup masuk ke telinga Paduka…”

“Heh, Wrekudara… Besar mana dirimu dibanding jagad. Jagad seisinya, hutan, gunung serta samuderanya tidak kepenuhan masuk ke tubuhku. Maka bersiaplah enkau. Heningkan cipta-rasa-karsamu, segeralah masuk ke tubuhku….!”

[Wrekudara bersemadi, mengheningkan cipta menenangkan pikiran. Maka masuklah dia ke tubuh Sang Marbudèng Rat. Betapa dia kagum. Wrekudara masuk ke suatu keadaan yang serba benderang. Dia ada di tempat maha luas tanpa batas. Terang benderang bukan karena surya. Terang benderang tanpa bayangan. Dia tak tahu lagi arah. Tiada lagi mata angina, tiada lagi atas-bawah. Bahkan dia tak mampu melihat dan merasakan dirinya sendiri. Meskipun dia masih dapat mendengar, dapat melihat, dapat berpikir dan dapat merasakan serta berbicara mengungkapkannya… itulah pintu masuk maha luas jagad langgeng….]


Pagelaran – Padasuka, 25 November 2006
Ki Denggleng Pagelaran
Pengurus Yayasan Sekar Jagad