Bukan maksud saya mengunggulkan "Jawa", namun ini hanya berdasarkan fakta. Bahwa pulau Jawa merupakan tempat yang banyak candinya. Bahkan kabarnya masih ada beberapa candi atau peninggalan megalitikum yang belum terungkap, karena masih terkubur, seperti situs Gunung Padang (Sukabumi - Cianjur) dan situs Sadahurip (Garut).
Fakta yang saya maksud adalah figur binatang laut Penyu yang menjaga candi utama di Candi Cetho (Ceta), Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini dibangun di atas bukit (dekat puncak) yang aksesnya cukup sulit. Tikungan tajam dan menanjak banyak dilalui ketika kita menujunya dari Karanganyar atau Surakarta.
Yang istimewa adalah di pelataran candi utama itu dijaga oleh figur penyu. Penyu ini ternyata dianggap binatang suci untuk ajaran dari Timur (Cina, Jepang dan Korea). Lalu mengapa ada di Ceta yang di puncak gunung? Candi Ceta dianggap dibangun oleh penguasa Majapahit akhir. Namun menurut pengamatan saya, ketika berkunjung kesana, ada perbedaan batu antara yang terdapat di candi induk dengan batu untuk 'gerbang bentar'-nya. Batu candi induk sudah kusam, memerah dan menunjukkan umurnya yang sudah sangat tua, sedang gapura bentar masih hitam dan halus. Apakah ini berarti pemerintah majapahit sekedar menambah atau memugar gapura bentar-nya?
Sementara ini saya berpendapat bahwa Candi Cetha dibangun jauh sebelum pemerintahan Majapahit ada. Bahkan jauh sebelum candi-candi (yang dianggap) bercorak Buddha dan Hindu dibangun di wilayah JOLODULANGMAS (Jogja Solo Kedu Magelang Banyumas). Di dekat puncak candi terdapat Lingga dan Yoni, yang melambangkan awal-mula kehidupan. Lingga Yoni ini belakangan dianggap sebagai wujud dewa-dewa kuno dari Hindu. Tetapi tidak setegas yang dipatungkan di Cetha.
Yang patut diperhatikan lagi adalah puncak candi yang berupa bangunan kubus, serupa dengan bangun KAKBAH. Konon kabarnya ini melambangkan devine berwatak perempuan.
![]() |
| Bangun Ka'bah di puncak Candi Cetha |
Namun bukan masalah itu yang ingin saya kemukakan dalam posting awal "Jati Diri Indonesia" ini, melainkan mari kita kembali ke Penyu yang ada di Puncak Gunung. Telah menjadi bahasan umum tentang kesjarahan Indonesia yang menurut sejarah formal, mendapat 'peradaban' selalu dari luar. Pertama dianggap bahwa orang Indonesia ini berasal dari Yunan atau ada juga yang menganggap dari Taiwan yang datang ke Selatan skitar 3000 SM. Benarkah demikian? Kalau memang benar, mengapa kosa kata Nusantara ini sangat jauh jika dibandingkan dengan kosa kata Taiwan atau Yunan? Mengapa kita tidak tahu benar dengan bahasa Thailand atau Cambodia?
Maka menurut hemat saya, harus dibalik. Bukan bangsa Indonesia yang berasal dari UTARA, tetapi bangsa Indonesialah yang menyebar ke UTARA, sambil mengajarkan berbagai hal tentang peradaban, seperti beternak ayam, bertanam pisang dan talas, dan selanjutnya teknik budidaya persawahan.
Kenapa ayam, talas dan pisang yang menjadi perhatian? Ketiga organisme itu bisa diajak berlayar berbulan-bulan dalam keadaan hidup, jika kapal yang membawanya cukup besar. Teknologi perkapalan dan pengetahuan astronomi dan navigasi, pastilah lebih dikuasai oleh orang kepulauan dibandingkan dengan orang daratan. Dari sini kita dapat beranggapan bahwa peradaban dunia (oriental) bukan menyebar ke Selatan, tetapi diperkaya oleh orang-orang Selatan.
Orang-orang Selatan itulah orang Nusantara yang sudah berlayar mengarungi Samudera dengan memanfaatkan pergantian musim, karena mereka berlayar benar-benar dengan kapal layar, yang salah satu modelnya terpahat di relief Candi Borobudur.
Nuhun
Anda ingin sehat? silakan klik www.kdpbiz.com



Tidak ada komentar:
Posting Komentar