Catatan KDP: Saya sangat tercenung dan terkejut
membaca bagian artikel Mas Radar Panca Dahana tentang “Tipuan Ajisaka” ini.
Keterkejutan saya terletak pada figur tokoh epos Ramayana: HANUMAN. Ya, dalam
pewayangan Ramayana versi Jawa, Hanuman (Anoman) sudah menjadi idola. Bahkan
dimitologikan sebagai “Anak derivatif Hyang Bayu, dengan ciri berkain POLENG dan
menggenggam kuku PANCANAKA, ketajaman yang LIMA. Tapi apakah benar dugaan Mas
Radar, bahwa sebagai raja monyet yang maha sakti, Hanuman ternyata hanyalah
sebagai tokoh penghianat bangsa Monyet yang membantu raja Arya Ramawijaya
menaklukkan Rahwana (raja Sri Alengka)? Apakah benar rombongan monyet Gua
Kiskendha itu sebenarnya satu rumpun bangsa dengan bangsa raksasa Alengka,
sebagai lambang bangsa Dravida-Indonesia yang akan ditaklukkan oleh bangsa Arya?
Silakan direnungkan….
Yang jelas perahu atau kapal bercadik yang
tergambar di relief dinding Borobudur menyiratkan bahwa itu adalah kapal bangsa
Indonesia terutama di pesisir selatan Jawa dan juga ciri khas kapal bangsa laut
seperti suku Bajo. Karena ciri bercadik itulah yang memungkinkan kapal-kapal
Nusantara mampu mengarungi samudera Pasifik (menuju kepulauan Fiji dan Selandia
baru) dan samudera Hindia menuju Madagaskar dan bahkan mencapai pantai Afika
Barat dengan membawa perbekalan yang hingga sekarang dapat dilacak buktinya
berupa: AYAM, PISANG RAJA dan PISANG TANDUK, dan juga tanaman TALAS-TALASAN.
TIPUAN AJISAKA
Keterangan di atas membalik uraian sejarah formal
bahwa Indonesia dibentuk oleh pendatang-pendatang dari sungai Mekong pada 3000
SM, atau kemudian diadabkan oleh bangsa India, disusul Arab, Cina, dan Eropa.
Kenyataannya kita adalah bangsa yang sudah berdagang jauh sebelum Yesus atau
Nabi Muhammad lahir. Tidak mengherankan, bila banyak bukti baru mengatakan Islam
datang ke Indonesia bukan lagi pada awal abad 11 lewat para mubalig Cina dan
Gujarat, tetapi sejak masa Nabi masih hidup. Bisa jadi begitu pula dengan agama
Kristen, Buddha bahkan Hindu. [Atau mungkin
justru substansi agama-agama itu diajarkan dan disebarkan oleh pelaut-pelaut
Nusantara, jauh sebelum ditulisnya kitab-kitab dari bangsa Ibrani? Lewat
guru-guru spiritual Nusantara yang kemudian nama-namanya diabadikan dan
disucikan sebagai nama-nama dewa dan malaikat? - KDP]
Maka adalah hal yang sangat masuk akal, bahwa
orang Indonesia (Austronesia) yang bercampur dengan Dravida sebenarnya adalah
lawan dari penjajah Arya yang tengah mencoba melebarkan koloninya hingga
Srilangka. Di sinilah, saya kira, mitologi Arya, Ramayana mendapatkan konteks
historisnya. Rama sebagai raja Arya memerangi Rahwana, raja maha sakti Dravida.
Dengan kelicinannya Rama menggunakan ‘rakyat setempat yang takluk’ sebagai
“pasukan para” di garda depan. Rakyat yang berkulit gelap yang dipersonafikasi
melalui monyet-monyet dan raja-raja monyet yang ditaklukkannya.
Babak Ramayana yang mengisahkan bagaimana Rama
membangun jembatan monyet untuk menyerbu Rahwana, raja Sri Alengka (Srilangka),
mengindikasikan betapa miskinnya pengetahuan Rama tentang laut, sehingga ia
meminta bantuan bangsa Dravida-Indonesia yang takluk (yang digambarkan sebagai
monyet) itu. Wajarlah jika raja monyet paling sakti yang menghamba pada Rama,
Hanuman, di-“anugerahi” posisi khas: diputihkan kulit(dan
bulu)nya, sebagaimana kulit bangsa Arya. Padahal sesungguhnya Hanuman
adalah pengkhianat bagi bangsanya sendiri.
Penaklukan besar yang teriwayatkan dalam sastra
indah ini, memberi kita beberapa proposisi interogatif yang menantang: tidakkah
kolonialis Arya di Dravida yang datang ke pulau Sumatera dan Jawa, memanfaatkan
teknologi pelayaran nusantara, untuk menaklukkan penguasa-penguasa pribumi di
kepulauan itu? Tidakkah mitologi Ajisaka bagi masyarakat Jawa hanyalah sebuah
legitimasi historis yang mitis, untuk penaklukan yang berpola sama dengan Rama?
Ajisaka menaklukkan Dewata Cengkar (penguasa pribumi yang digambarkan sebagai
rasaksa, sebagaimana rahwana), melalui senjata sederhana, kain pengikat kepala,
sehingga membuat Dewata Cengkar tersingkir perlahan dan akhirnya tercebur ke
laut, menjadi dhemit di selat Banyuwangi?
Betapa mitologi ini sudah menipu kita
berabad-abad? Seakan orang Jawa ontologinya berujung pada pangeran dari India
Selatan yang membawa aksara hanacaraka, yang tak lain kembangan dari
bahasa suci Arya, Sansekerta? Semacam politik bahasa yang mengerangkeng pola dan
daya tutur penuh suasana dari bahasa Jawa? Betapa keliru karenanya, bila orang
Jawa, khususnya para raja dan sultannya jika mengidentifikasi diri pada mitologi
dan politik bahasa ini. Atau memang kerajaan-kerajaan di Jawa tidak lain adalah
pewaris pelanjut dari tradisi kerajaan Arya yang berorientasi kontinental alias
daratan?
Dapatkan 7 botol @ 6 ml Melia Propolis hanya dengan Rp 635,000. Anda akan langsung menjadi member MLM PT Melia Sehat Sejahtera dengan peluang penghasilan hingga Rp 850,000 sehari…!!! Unduh formulir pemesanannya diSINI, lalu kirimkan e-mail order ANDA kedenggleng@yahoo.com, segera !


