Borobudur

Borobudur

Janturan Nusantara

Swuh rep data pitana.

Nenggih negari pundi ta kang ka éka adi dasa purwa.
Eka sawiji adi linuwih, dasa sapuluh, purwa wiwitan.
Senadyan kathah titahing jawata ingkang kasangga
ing Pertiwi, kaungkulan ing Angkasa, kapit ing Samodra,
kathah ingkang samya anggana raras, nanging datan
kadi ing negari Nusantara.

Ngupaya satus datan antuk kekalih, sewu tan jangkep
sedasa, ora jeneng mokal lamun mangka bebukaning
carita. Dhasar Negara panjang punjung pasir wukir,
gemah ripah loh jinawi, karta tata raharja.

Panjang dawa pocapané, punjung dhuwur kawibawané,
pasir samodra, wukir gunung. Pranyata nagari Nusantara
ngungkuraken pegunungan, ngeringaken bengawan
nengenaken pasabinan miwah ngayunaken bebandaran agung.

Gemah kathah para nangkuda kang lumaku dedagangan
anglur selur datan ana pedhoté, labet tan ana sangsayaning margi.

Ripah kathah para janma manca negari kang samya katrem
abebalé wisma ing salebeting kitha, jejel apipit bebasan aben
cukit tepung taritis, papan wiyar katingal rupak.

Loh subur kang sarwa tinandur, jinawi murah kang sarwa tinuku.
Karta para kawula ing padusunan mungkul pangolahing
tetanèn ingon-ingon kebo-sapi pitik-iwèn datan cinancangan
rahina aglar ing pangonan wanci ratri bali marang kandhange
dhéwé-dhéwé.

Raharja tegesé tebih ing parang muka, karana para mantri
bupati wicaksana limpating kawruh tan kendhat dènya
misungsung kabahagyan marang ratu gustènipun
sumarambah para kawula dasih. Mila ora jeneng mokal lamun
negari Nusantara kena dibebasakaké jero tancepé, malembar
jenengé, kasup kasusra prajané.

Ora ngemungaké ing kanan-kéring kéwala senajan ing
praja maha praja kathah kang samya tumungkul datan
linawan karana bandayuda, amung kayungyun marang
pepoyaning kautaman bebasan kang cerak samya manglung
kang tebih samya mentiyung asok bulu bekti glondhong
pengareng-areng pèni-pèni raja pèni guru bakal guru dadi…

Minggu, 24 Agustus 2014

Tipuan Ajisaka (Radar Panca Dahana)

(Hanuman: tokoh idola atau penghianat?)

Catatan KDP: Saya sangat tercenung dan terkejut membaca bagian artikel Mas Radar Panca Dahana tentang “Tipuan Ajisaka” ini. Keterkejutan saya terletak pada figur tokoh epos Ramayana: HANUMAN. Ya, dalam pewayangan Ramayana versi Jawa, Hanuman (Anoman) sudah menjadi idola. Bahkan dimitologikan sebagai “Anak derivatif Hyang Bayu, dengan ciri berkain POLENG dan menggenggam kuku PANCANAKA, ketajaman yang LIMA. Tapi apakah benar dugaan Mas Radar, bahwa sebagai raja monyet yang maha sakti, Hanuman ternyata hanyalah sebagai tokoh penghianat bangsa Monyet yang membantu raja Arya Ramawijaya menaklukkan Rahwana (raja Sri Alengka)? Apakah benar rombongan monyet Gua Kiskendha itu sebenarnya satu rumpun bangsa dengan bangsa raksasa Alengka, sebagai lambang bangsa Dravida-Indonesia yang akan ditaklukkan oleh bangsa Arya? Silakan direnungkan….

Yang jelas perahu atau kapal bercadik yang tergambar di relief dinding Borobudur menyiratkan bahwa itu adalah kapal bangsa Indonesia terutama di pesisir selatan Jawa dan juga ciri khas kapal bangsa laut seperti suku Bajo. Karena ciri bercadik itulah yang memungkinkan kapal-kapal Nusantara mampu mengarungi samudera Pasifik (menuju kepulauan Fiji dan Selandia baru) dan samudera Hindia menuju Madagaskar dan bahkan mencapai pantai Afika Barat dengan membawa perbekalan yang hingga sekarang dapat dilacak buktinya berupa: AYAM, PISANG RAJA dan PISANG TANDUK, dan juga tanaman TALAS-TALASAN.

TIPUAN AJISAKA

perahu-bercadik-borobudurMaka, dari fakta yang diringkas sebelumnya (Indonesia Maritim #1 – #3), bisa kita mendapat pemahaman bagaimana kebudayaan Indonesia sebenarnya telah dibangun dengan cara yang sangat mengagumkan, dari kehidupan dan pengetahuannya tentang kelautan. Bukan daratan. Dan itu tidak hanya membuktikan betapa sebenarnya jati diri dan identitas muasal kita adalah pelaut sejati, bangsa laut yang besar dan disegani di masa purba (pra-sejarah), yang berinteraksi secara intens dengan peradaban-peradaban besar dan purba di Mesopotamia, Babylonia, Indus hingga Cina, tetapi juga serentak itu ia membantah keterangan sejarah yang kini taken for granted bagi kita, bahkan menjadi mitos.

Keterangan di atas membalik uraian sejarah formal bahwa Indonesia dibentuk oleh pendatang-pendatang dari sungai Mekong pada 3000 SM, atau kemudian diadabkan oleh bangsa India, disusul Arab, Cina, dan Eropa. Kenyataannya kita adalah bangsa yang sudah berdagang jauh sebelum Yesus atau Nabi Muhammad lahir. Tidak mengherankan, bila banyak bukti baru mengatakan Islam datang ke Indonesia bukan lagi pada awal abad 11 lewat para mubalig Cina dan Gujarat, tetapi sejak masa Nabi masih hidup. Bisa jadi begitu pula dengan agama Kristen, Buddha bahkan Hindu. [Atau mungkin justru substansi agama-agama itu diajarkan dan disebarkan oleh pelaut-pelaut Nusantara, jauh sebelum ditulisnya kitab-kitab dari bangsa Ibrani? Lewat guru-guru spiritual Nusantara yang kemudian nama-namanya diabadikan dan disucikan sebagai nama-nama dewa dan malaikat? - KDP]

Figur Timur Tengah atau Afrika?Kita tahu kini, sejak bangsa Arya mulai menempati lereng Himalaya dan sungai Gangga pada 1500 SM, mereka membutuhkan waktu 1,000 tahun lagi (500 SM) untuk sampai wilayah Selatan India, di mana ternyata sudah merupakan perkampungan orang Indonesia yang semarak di sana. Di masa itulah dipercaya, kitab-kitab utama Buddha lahir, kitab Vedha menyebar, dan peradaban Yunani melahirkan filosof-filosof yang tajam pikirannya.

Maka adalah hal yang sangat masuk akal, bahwa orang Indonesia (Austronesia) yang bercampur dengan Dravida sebenarnya adalah lawan dari penjajah Arya yang tengah mencoba melebarkan koloninya hingga Srilangka. Di sinilah, saya kira, mitologi Arya, Ramayana mendapatkan konteks historisnya. Rama sebagai raja Arya memerangi Rahwana, raja maha sakti Dravida. Dengan kelicinannya Rama menggunakan ‘rakyat setempat yang takluk’ sebagai “pasukan para” di garda depan. Rakyat yang berkulit gelap yang dipersonafikasi melalui monyet-monyet dan raja-raja monyet yang ditaklukkannya.

Babak Ramayana yang mengisahkan bagaimana Rama membangun jembatan monyet untuk menyerbu Rahwana, raja Sri Alengka (Srilangka), mengindikasikan betapa miskinnya pengetahuan Rama tentang laut, sehingga ia meminta bantuan bangsa Dravida-Indonesia yang takluk (yang digambarkan sebagai monyet) itu. Wajarlah jika raja monyet paling sakti yang menghamba pada Rama, Hanuman, di-“anugerahi” posisi khas: diputihkan kulit(dan bulu)nya, sebagaimana kulit bangsa Arya. Padahal sesungguhnya Hanuman adalah pengkhianat bagi bangsanya sendiri.

Penaklukan besar yang teriwayatkan dalam sastra indah ini, memberi kita beberapa proposisi interogatif yang menantang: tidakkah kolonialis Arya di Dravida yang datang ke pulau Sumatera dan Jawa, memanfaatkan teknologi pelayaran nusantara, untuk menaklukkan penguasa-penguasa pribumi di kepulauan itu? Tidakkah mitologi Ajisaka bagi masyarakat Jawa hanyalah sebuah legitimasi historis yang mitis, untuk penaklukan yang berpola sama dengan Rama? Ajisaka menaklukkan Dewata Cengkar (penguasa pribumi yang digambarkan sebagai rasaksa, sebagaimana rahwana), melalui senjata sederhana, kain pengikat kepala, sehingga membuat Dewata Cengkar tersingkir perlahan dan akhirnya tercebur ke laut, menjadi dhemit di selat Banyuwangi?

Betapa mitologi ini sudah menipu kita berabad-abad? Seakan orang Jawa ontologinya berujung pada pangeran dari India Selatan yang membawa aksara hanacaraka, yang tak lain kembangan dari bahasa suci Arya, Sansekerta? Semacam politik bahasa yang mengerangkeng pola dan daya tutur penuh suasana dari bahasa Jawa? Betapa keliru karenanya, bila orang Jawa, khususnya para raja dan sultannya jika mengidentifikasi diri pada mitologi dan politik bahasa ini. Atau memang kerajaan-kerajaan di Jawa tidak lain adalah pewaris pelanjut dari tradisi kerajaan Arya yang berorientasi kontinental alias daratan?

Dapatkan 7 botol @ 6 ml Melia Propolis hanya dengan Rp 635,000. Anda akan langsung menjadi member MLM PT Melia Sehat Sejahtera dengan peluang penghasilan hingga Rp 850,000 sehari…!!! Unduh formulir pemesanannya diSINI, lalu kirimkan e-mail order ANDA kedenggleng@yahoo.com, segera !

Jati Diri Indonesia I: Bangsa Bahari

Bukan maksud saya mengunggulkan "Jawa", namun ini hanya berdasarkan fakta. Bahwa pulau Jawa merupakan tempat yang banyak candinya. Bahkan kabarnya masih ada beberapa candi atau peninggalan megalitikum yang belum terungkap, karena masih terkubur, seperti situs Gunung Padang (Sukabumi - Cianjur) dan situs Sadahurip (Garut).
Fakta yang saya maksud adalah figur binatang laut Penyu yang menjaga candi utama di Candi Cetho (Ceta), Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini dibangun di atas bukit (dekat puncak) yang aksesnya cukup sulit. Tikungan tajam dan menanjak banyak dilalui ketika kita menujunya dari Karanganyar atau Surakarta.
Yang istimewa adalah di pelataran candi utama itu dijaga oleh figur penyu. Penyu ini ternyata dianggap binatang suci untuk ajaran dari Timur (Cina, Jepang dan Korea). Lalu mengapa ada di Ceta yang di puncak gunung? Candi Ceta dianggap dibangun oleh penguasa Majapahit akhir. Namun menurut pengamatan saya, ketika berkunjung kesana, ada perbedaan batu antara yang terdapat di candi induk dengan batu untuk 'gerbang bentar'-nya. Batu candi induk sudah kusam, memerah dan menunjukkan umurnya yang sudah sangat tua, sedang gapura bentar masih hitam dan halus. Apakah ini berarti pemerintah majapahit sekedar menambah atau memugar gapura bentar-nya?
Sementara ini saya berpendapat bahwa Candi Cetha dibangun jauh sebelum pemerintahan Majapahit ada. Bahkan jauh sebelum candi-candi (yang dianggap) bercorak Buddha dan Hindu dibangun di wilayah JOLODULANGMAS (Jogja Solo Kedu Magelang Banyumas). Di dekat puncak candi terdapat Lingga dan Yoni, yang melambangkan awal-mula kehidupan. Lingga Yoni ini belakangan dianggap sebagai wujud dewa-dewa kuno dari Hindu. Tetapi tidak setegas yang dipatungkan di Cetha.
Yang patut diperhatikan lagi adalah puncak candi yang berupa bangunan kubus, serupa dengan bangun KAKBAH. Konon kabarnya ini melambangkan devine berwatak perempuan.

 
Bangun Ka'bah di puncak Candi Cetha
Namun bukan masalah itu yang ingin saya kemukakan dalam posting awal "Jati Diri Indonesia" ini, melainkan mari kita kembali ke Penyu yang ada di Puncak Gunung. Telah menjadi bahasan umum tentang kesjarahan Indonesia yang menurut sejarah formal, mendapat 'peradaban' selalu dari luar. Pertama dianggap bahwa orang Indonesia ini berasal dari Yunan atau ada juga yang menganggap dari Taiwan yang datang ke Selatan skitar 3000 SM. Benarkah demikian? Kalau memang benar, mengapa kosa kata Nusantara ini sangat jauh jika dibandingkan dengan kosa kata Taiwan atau Yunan? Mengapa kita tidak tahu benar dengan bahasa Thailand atau Cambodia?
Maka menurut hemat saya, harus dibalik. Bukan bangsa Indonesia yang berasal dari UTARA, tetapi bangsa Indonesialah yang menyebar ke UTARA, sambil mengajarkan berbagai hal tentang peradaban, seperti beternak ayam, bertanam pisang dan talas, dan selanjutnya teknik budidaya persawahan.
Kenapa ayam, talas dan pisang yang menjadi perhatian? Ketiga organisme itu bisa diajak berlayar berbulan-bulan dalam keadaan hidup, jika kapal yang membawanya cukup besar. Teknologi perkapalan dan pengetahuan astronomi dan navigasi, pastilah lebih dikuasai oleh orang kepulauan dibandingkan dengan orang daratan. Dari sini kita dapat beranggapan bahwa peradaban dunia (oriental) bukan menyebar ke Selatan, tetapi diperkaya oleh orang-orang Selatan.
Orang-orang Selatan itulah orang Nusantara yang sudah berlayar mengarungi Samudera dengan memanfaatkan pergantian musim, karena mereka berlayar benar-benar dengan kapal layar, yang salah satu modelnya terpahat di relief Candi Borobudur.
 
 
Nuhun
 
Anda ingin sehat? silakan klik www.kdpbiz.com